Kak Bas is my father. The greatest father ever after…

 

Bambang Basuki namanya. Menghirup nafas pertamanya di dunia pada tanggal 25 Januari 1952 (angka cantik ya?!). Anak keempat dari tiga belas bersaudara, putra (alm) mbah Atomo dan (almh) mbah Siti Rokhayah. Setauku sih ada percampuran darah Jawa dan sedikit Cina.

Aku mungkin memang tidak banyak tahu tentang masa lalu Ayah. Karena Ayah sendiri tidak banyak bercerita pada kami tentang masa lalunya. Kebanyakan kisah tentang Ayah aku dapat dari cerita mama, om, tante, budhe, pakdhe, kakek, nenek, temen2 kantor Ayah, atau keluarga besar Pramuka dan ORARI. Dunia Protokoler, Pramuka, dan ORARI adalah tiga hal yang tak terpisahkan dari ‘Kak Bas’ semasa hidupnya. Kecintaannya, kebutuhannya, loyalitasnya, …segalanya.

Ayahku dimata orang-orang adalah sosok panutan yang luar biasa. Sejak masa mudanya, beliau dikenal tegas, disiplin, idealis, smart, tapi beliau juga islami, wise, dan bersahaja. Aku nggak tau kata2 apa lagi yang bisa menggambarkan kekagumanku pada Ayah. Semasa kecilku dulu, Ayah sering mengajakku ke banyak tempat. Dari apa-apa yang dilakukan Ayah dan bagaimana sikap orang2 di sekitarnya, aku membaca betapa Ayah adalah orang yang cukup dihormati, dikagumi, dicintai, sekaligus dibenci (seperti Paris Hilton, ah nggak nggak…contohnya nggak relevan) Kadang ayah bisa menjadi terlalu ‘tegas’ dan kaku, terutama menyangkut hal-hal yang melibatkan kata waktu, rapi, janji, komitmen, kode etik, peraturan, tanggung jawab, profesionalitas, formalitas, loyalitas, dan pride.

Kak Bas sering dapet penghargaan, whatever it named. Bukannya aku nggak pernah nanya atau nggak pernah diberi tau, tapi salahkan otakku. Yang aku inget cuma setiap mu ada upacara hari jadi Pramuka atau muscab, ayah pasti sibuk memasang berderet pin-pin ‘lucu’ plus semacam batik keunguan yang dipake seperti slayer.  Aku pernah ikut Pramuka, tapi berhenti setelah SMP (why? hmm things fall apart). Satu-satunya prestasi terbesarku ‘hanya’ pernah ikut Jambore Nasional tahun 2006, bersama kontingen Kota Malang. Jauuuuhh di bawah standar ayah yang sudah sampai ke kelas comdeca, skalanya internasional. Beberapa tahun lalu masih sempet dapet surat dari temen Pramuka-nya di mmm…whatever country in America (salahkan otakku sekali lagi).

Di dunia protokoler kota malang, ayahku sudah puluhan tahun jadi MC kepercayaan. Bukan sombong, tapi suara emas-nya, siapa sih yang nggak kenal.. Ayah selalu jadi MC andalan di setiap perhelatan besar yang diselenggarakan PemKot Malang, pasti Pak Bas MC-nya. Dan menurut ‘Kiki kecil’, ini keren banget, dan sangat ‘menguntungkan’. Aku kan sering diajak ke setiap acara itu. Duduk bersama pejabat-pejabat, kakang-mbakyu yang kerbek (keren-beken), bahkan artis! Ya, sering kan Kota Malang ngundng artis di acara apaaa gitu. Si Kiki kecil yang lugu merasakan hal ini sebagai pengalaman yang luar biasa keren. Biasanya, keesokan harinya langsung sesumbar ke temen2 sekolahnya dee hehe.. Setiap ada upacara kemerdekaan atau hari besar lain, aku juga diajak. Bangga gak jelas gitu, lagi2 bisa duduk satu barisan bersama para pejabat dan mantan pejuang / veteran. Kereeenn… (please de, Kiiiii) Oh ya, gara2 ayah juga, waktu SMP aku pernah jadi MC di Upacara Hari Jadi Pramuka yang dihelat di depan balaikota. Waktu itu, sumpahhh aku ngerasa keren banget (hoeek). Tapi waktu itu aku udah nggak gila sesumbar sama temen2 di sekolah.

Sosok Ayah yang kukenal, di rumah, bukan sebagai Kak Bas ataupun Pak Bas, tidak jauh berbeda. Hanya saja, ada sisi lain dari Ayah yang hanya muncul ketika berada di rumah, diantara orang2 yang dicintainya. Ayah ternyata adalah orang yang sensitif, care, manja, bahkan kadang bisa menjadi sangat rapuh… hanya saja ego-nya masih terlalu tinggi untuk mengakuinya.

Ayah tidak banyak bicara di rumah. Mungkin juga karena frekuensi kehdiran Ayah di rumah -semasa aktifnya- sangat limited, jika dibandingkan dengan porsi untuk Protokol dan Pramuka (Ayah sudah lama banget nggak aktif di ORARI, entah sejak kapan, mungkin karena 2P sudah terlalu banyak menyita waktunya). Sehingga mau nggak mau, semua urusan rumah ada di tangan mama. Thanks God, mamaku adalah satu dari sedikit wanita yang juga bisa berperan dengan baik untuk menjadi ‘pria’. Mama agak tomboi. Tanpa mengabaikan tugas dan tanggungjawabnya sebagai guru, mama bisa tetap jadi sosok istri dan ibu yang admirable. That’s why aku dan adik-adikku cenderung lebih ‘dekat’ dengan mama ketimbang ayah. Tapi ada hal-hal tertentu yang sudah pasti tetap menjadi tanggungjawab dan wewenang ayah sebagai kepala keluarga. Ya, aku punya sepasang orang tua hebat. Mama dan Ayah, somehow, sepertinya memang sengaja diciptakan untuk satu sama lain.

Kira-kira kelas 3 SMP, aku pernah dipanggil BP gara2 keseringan bolos Sekolah. Waktu itu Mama baru aja melahirkan Sena, adikku yng pling kecil, dan disambung dengan operasi angkat kandungan (because of many reason). Nggak lama setelah itu, ayah sakit dan harus opname di rumah sakit. Diabetes Mellitus. Mama nggak mungkin ninggalin bayi merahnya untuk nunggu ayah di RS, lagipula kondisi kesehatan mama sendiri juga belum pulih. Terpaksa aku, dibantu beberapa saudara yang harus turun tangan. Sampai Ayah sembuh, tapi nggak total, karena sejak itu Ayah sering keluar-masuk RS. Alhamdulillah, atas ijin Allah kami bisa bertahan, dan melewati semua ini dengan baik. Sejak ini ayah mulai mengurangi kegiatannya di Pramuka.

Aku kelas 2 SMA, mendadak Ayah sakit lagi. Kali ini kondisinya lebih buruk. Ayah koma. Cukup lama, hampir sebulan. Seingatku ini adalah kondisi terburuk ayah sepanjang sejarah sakitnya. Dan mama, seperti biasa selalu ada di sisi ayah. Tapi sekali lagi, atas ijin Allah, ayah sembuh. Tentu saja tidak 100%. Sejak itu ayah bermasalah dengan memorinya. Ayah sempet lupa sama mama dan anak2nya. Tapi melalui terapi, berangsur2 ingatannya kembali. Pun kemampuan berbicaranya, mengolah kata-kata, me-manage pikirannya. Sejak ini pula, ayah semakin sering keluar-masuk RS, tapi dengan waktu perawatan yang lebih singkat, dan skala sakit yang tidak terlalu mengkhawatirkan (padahal ayah rajin kontrol kesehatan setiap bulan). Membuat RSSA seolah jadi rumah keduaku. Dan membuat Ayah terpaksa harus total meninggalkan dunia Pramuka, dan mulai mengurangi aktivitasnya di kantor. (tambahan: tidak lama setelah ini, Sena dideteksi mengalami reflak di ginjalnya, harus menjalani serangkaian perawatan intensif, dan hampir operasi tapi nggak jadi karena usianya masih terlalu muda)

Kalau nggak salah inget, tahun 2006 atau 2007. Ayah mendadak jatuh pingsan saat sedang mengendarai sepeda motor. Untungnya (dasar orang Jawa), kejadian ini di depan Pendopo Kabupaten Malang, deket Alun-alun. Jadi Ayah langsung cepat ditangani dokter jaga di pendopo, kemudian diantarkan Ambulance milik PemKab ke RSSA Malang. Hanya beberapa hari Ayah dirawat di RS. Masalahnya hampir selalu sama, kalau nggak hiperglikemia, ya hipoglikemia (dunno how to spell). Tapi setelah yang ini, ayah agak jarang keluar-masuk RS.

Februari 2008, ayah pensiun dari PNS PemKot Malang. Kalau diingat2 lagi, berarti ayah sudah totaly pensiun dati ketiga ‘pekerjaan’nya. ORARI, Pramuka, dan terakhir Protokol. Fakta kecut ini membawa satu masalah lagi untuk ayah. Post Power Syndrome. Sisi tersembunyi Ayah yang sensitif, emosional, dan rapuh, mulai mendominasi.

April 2008, Ayah masuk RS lagi. Hanya dua bulan setelah jatuh tempo masa purna tugasnya.  Akumulasi hiperglikemi, hipertensi, dan …..post power syndrome.

Juli 2008, dua belas hari sebelum ulang tahunku. Pagi itu, adzan subuh, seperti biasa ayah langsung otomatis bangun, turun dr kasur dan mau ke kamar mandi. Tapi mendadak ayah jatuh, karena seluruh tubuh sebelah kirinya lumpuh. Kepalanya terbentur (lagi). Beberapa hari di rumah sakit, ayah sempet nggak sadar 100%. Kadang inget, kadang lupa. Hasil CT Scan bilang kalau ternyata banyak bagian ‘abu-abu’ di otak ayah. Dengan sekian banyak syaraf otak yang ‘mati’, dokter syaraf bilang secara teoritis semestinya ayah sudah stroke total sejak lama. Tapi amazingly, dengan terapi, bagian tubuh sebelah kiri mulai bisa berfungsi kembali hanya dalam beberapa minggu. tapi ya, belum 100%. Bukan hanya berkat dokter, terapis, tapi juga temen2 lamanya di Pramuka yang dateng ngasih support dan sukses mendongkrak semangat hidupnya.

Oktober 2008. masih Syawal. Sejak puasa, banyak hal ‘aneh’ yang terjadi, dan makin menjadi selama Syawal. Kejadian dan suara-suara aneh di dalem rumah, gagak, ledakan gardu listrik dket rumah, bengkel depan gang kebakaran, etc. Dan sikap Ayah yang semakin aneh. Lebih emosional dan susah diatur, hanya gara2 masalah sepele, seperti makanan (mana yang boleh dan mana yang nggak) misalnya. Hmm…pulang dari syukuran Ulang Tahun adik ayah, Om Moel, kemarahan ayah memuncak, untuk alasan yang kita semua nggak ngerti. Ayah tampak begitu desperate melawan penyakitnya. Tengah malam, mama menyadari kl ayah tidur dalam gelisah. Bolak-balik kencing, biasanya pertanda kalo kadar gula darahnya super duper tinggi. Aksi marah2 nggak jelas tadi jg bisa dijadikan rambu-rambu. Stelah dites, GD stick ‘high’, means up to 500. Karena Mama takut ayah dehidrasi, dan juga kekhawatiran lain, diboyonglah ayah ke RS. (aku masih feel sorry karena sempet berpikir kl kekhawatiran mama saat itu agak berlebihan, pasalnya saat itu ayah memang tampak ‘baik-baik saja’). Beberapa jam di UGD, setelah ‘digrojok’ cairan infus (entah apa) gula darah ayah berangsur normal. Dan setelah ‘sadar’ ayah malah sempet protes, ngapain sih sampai dibawa ke RS lagi? karena beliau merasa nggak papa. Besoknya, ayah sudah ‘sehat’ malah setelah sarapan minta dibeliin koran. Sorenya masih bisa mandi sendiri. Setelah memastikan semua kebutuhan ayah terpenuhi, mama berangkat ngajar (catet: selama bertahun2 ayah sakit, belum pernah sekalipun mama beranjak dari sisi ayah, kecuali tarpaksa) . Adik2 ayah yang bergantian jenguk. Sabtu siang, pulang Sekolah, tiba-tiba ada telpon dari perawat ruangan, ngasih tau kalo ayah kritis dan harus dipindahkan ke ruang ICCU. (what the…..???) Secepat kilat kita berangkat ke RS, kaget setengah mati ngliat kondisi ayah yang jauh jauh jauh banget beda dengan kondisi tadi pagi. Ayah sudah nggak sadar, tapi masih bisa gerak scr reflek. Rupanya ruang ICCU penuh, jd kepindahannya ditunda. Minggu, sempet sadar sebentar, pas waktu temen2 Pramuka besuk, tapi nggak bisa ngomong. Stroke kedua. Ayah cuma bisa melihat, menyapa dengan tatapan dan sentuhan tangan yang bergerak tak terkendali. Dengan cara itu juga terakhir kali Ayah menyapaku, menyapa mama, menyapa kami semua. Keesokan harinya ayah tidak lagi membuka matanya. nafasnya mulai berat..

Selasa, 28 Oktober 2008, jam 2 siang. Ayah meninggal dunia.  Meninggalkan mama, Sena, Basri, dan aku. Meninggalkan semua yang dimilikinya. Meninggalkan semua yang mencintainya. Tepat di hari peringatan Sumpah Pemuda. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..

Mohon maaf sepenuh hati…

 Ijinkan saya memintakan maaf, jika selama hidup Ayah pernah berbuat kesalahan kepada siapapun Anda, dan sesepele apapun kesalahan Ayah, entah sengaja ataupun tidak, tolong diiklhlaskan.   Kami mohon maaf…

Terima kasih. Thank you. Matur suwun. Arigato. Grazie…

Untuk semua yang telah membantu kami melewati ini semua. Segenap keluarga besarku (tentu), tetangga2 (helping a lot), temen2ku (mulai dari temen SD sampai temen kuliah dan temen kerja), temen2 mama (to make my mother stronger), temen2 ayah: keluarga besar PemKot Malang (termasuk Ibu Wali Kota yang sudah berkenan menyampaikan bela sungkawa scr langsung), keluarga besar Pramuka (esp. DKC Kota Malang, gratefull) & PMI Kota Malang, serta ratusan orang lainnya yang honestly sama sekali asing bagiku, tapi begitu baik datang dan membantu semuanya sampai menyolati dan memakamkan jenasah ayah. Bahkan turut mendoakan almarhum ayah, sampai malam tujuh harinya.

Terima kasih,

Kiki Basuki


0 Responses to “In Memoriam Kak Bas”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: