28
Jan
09

Bapak dan Hepatoma (bagian 3)

Hari ini semua anak-anak Bapak sudah berkumpul di rumah sakit. Mendampingi Bapak melalui masa kritisnya. Dalam satu sesi ‘setengah sadar’nya Bapak sempat memandangi semua anaknya, bergantian satu per satu.

Aku menarik diriku mundur sedikit ke belakang. Memberi kesempatan kepada anak-anak Bapak untuk bisa lebih dekat, karena memang mereka yang lebih berhak. Dan karena aku tidak lagi mampu membendung air mataku, tapi aku tidak ingin bapak melihat ini.

Suasana haru terasa begitu pekat. Semua tahu, saat ini hanya ada dua opsi. Pertama, Bapak berhasil melewati masa kritis, sadar, lalu bersiap menghadapi masa kritis selanjutnya yang pasti lebih parah. Atau, opsi kedua, masa kritis ini akah berhenti sampai disini dan memaksa Bapak untuk tutup usia. Bapak, seorang kakek berusia 85 tahun yang didiagnosa menderita hepatoma sejak (ternyata) lebih dari setahun lalu, dan saat itu dokter sempat ‘meramalkan’ secara teoritis tubuh Bapak hanya akan mampu bertahan hingga paling lama satu bulan.

Memandang Bapak dari kejauhan, aku sedikit mengenang masa-masa Bapak masih sehat dulu. Tiba-tiba aku tersentak, nyaris tak kuasa bernafas selama beberapa detik. Aku teringat sesuatu. Oh no..apakah ini waktunya? Apakah ini adalah ending dari kisah 85 tahun perjalanan hidup Bapak Soehodo? Seorang Veteran, mantan pejuang Kemerdekaan RI, peraih tanda penghargaan Bintang Gerilya.. Seorang pria sepuh dengan delapan anak, dua puluh tiga cucu (mudah2an gak salah itung), dan satu cicit.

Aku ingat, dulu.. ups, bukan dulu tapi duluuuuuu… Bapak pernah bilang. Besok (tentu saja maksudnya besooooook) kalau Bapak merasa ‘waktunya’ sudah dekat, Bapak tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Bapak berpesan anak-anak tidak perlu panik. Jika waktu itu akan tiba, maka Bapak akan ‘bersiap-siap’ sendiri. Meluruskan kedua kakinya dan mendekatkan kedua ibu jari kakinya. Kemudian Bapak juga akan mendekapkan kedua tanggannya diatas dada. Saat itulah bapak akan meditasi, mempersiapkan dirinya sendiri untuk menyambut kedatangan malaikat pencabut nyawa. Bapak juga berpesan, jika benar telah tiba saat itu, Bapak tidak ingin ada yang membangunkan atau mencegahnya pergi. Biarkan bapak berkonsentrasi, menata jiwa, mungkin juga berdialog dengan malaikat, berpamitan, hingga akhirnya benar-benar meninggalkan raganya dengan ikhlas. Saat itu, jika sudah tidak ada gerakan lagi, bahkan gerakan jantung sekalipun sudah tidak terdeteksi lagi, bapak berpesan untuk diselimuti dengan kain jarik (batik pakem jawa) warna gelap. Dan ikhlaskan Bapak pergi…

Duluuuuu waktu Bapak berpesan seperti itu, sekali lagi aku kagum padanya. Sejauh dua puluh tiga setengah tahun perjalanan hidupku, Bapak satu-satunya orang yang kukenal, yang sebegitu ‘siap’nya menghadapi kematian. Saat itu, ya, sesaat itu aku merasa ‘bapak keren’. Tapi sekarang ini, semua tidak terasa ‘keren’ lagi. Kekagumanku berubah menjelma jadi ketakutan. Aku takut. Belum genap seratus hari aku kehilangan Ayah. Haruskah kini aku kehilangan Bapak?

Aku takut. Aku takut jadi egois. Aku takut menginginkan Bapak tetap disini, dan memaksa Bapak untuk terus bertahan dan berjuang melawan penyakitnya. Aku tau Bapak punya semangat hidup yang luar biasa, tapi aku juga tahu, hepatoma telah menggerogoti raganya sedemikian rupa, hingga Bapak terjebak diantara pilihan hidup atau mati.

Ya Allah, aku tidak ingin kehilangan Bapak, tapi aku juga tidak ingin bapak terlalu menderita.. Ya Allah, hidup Bapak, hidup kami, mutlak ada dibawah kuasa-Mu. Apa yang akan terjadi hari ini? apa yang akan terjadi esok? Hanya Engkau yang tahu…


2 Responses to “Bapak dan Hepatoma (bagian 3)”


  1. 1 Indra
    Februari 5, 2009 pukul 5:24 am

    Turut berduka cita atas meninggalnya kakekmu ya Ki…

  2. 2 kikibasuki
    Februari 6, 2009 pukul 10:02 pm

    Iya mas, thanks. Bapak seda Selasa malem lalu, pas 100 harinya ayahku.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: