28
Jan
09

Bapak dan Hepatoma (bagian 2)

Aku memandanginya begitu lama. Aku bahkan enggan melepaskan tangannya, yang kubelai lembut sesekali.. Ingin sekali aku berkata, “jangan pergi..”

Tapi tidak. Aku tidak ingin menjadi seperti itu. Egois, manja, si raja tega.. Tidak. Aku memandanginya sekali lagi. Tenggelam dalam imajinasi. Terjebak dalam tanya.

Dalam tidurnya, aku melihat kegelisahan. Dia gelisah. Entah drama apa yang sedang diputar di alam bawah sadarnya sana.Apakah ia sedang melihat impian-impiannya? Ataukah ia sedang menyaksikan kaleidoskop 85 tahun hidupnya? Atau…mungkinkah ia sedang berdialog dengan malaikat? Malaikat yang mungkin tengah bersiap menjemputnya.. Mungkinkah ia berdialog dengan Tuhannya? siapa tahu usia masih bisa ditawar.. Siapa tahu?

Sesaat kemudian ia terbangun. Terengah. Menghembuskan nafas panjang. Seolah baru terbangun dari mimpi buruk. Benarkah? Benarkah ia baru saja bermimpi buruk? Aku bahkan tidak berani berprasangka. Aku tidak bisa membaca apapun dari matanya. Kosong.

Tidak lama, ia tenggelam lagi dalam tidurnya. Kali ini dalam tidur yang berbeda. Entah mengapa aku berpikir ia mengalami ‘kisah’ yang berbeda dalam setiap tidurnya, dan kisah yang berbeda lagi saat ‘terjaga’nya yang belum sempurna. Kadang aku melihat kegelisahan, kadang ketegangan, kadang kesedihan, kemarahan, kelelahan, keputus asaan, kesakitan yang sangat. Tapi kadang aku juga melihat ketenangan, kepuasan, juga asa dan cinta. Ya, sesekali masih kulihat senyum di wajahnya.

Dia kakekku, bapakku, guruku, teman curhatku, kritikus langgananku, motivator setiaku, gudang ilmuku, tempat bersandarku.. Dia yang mengajariku cara berjalan yang baik, mengajariku bagaimana bersikap sebagai perempuan. Dia juga mengajariku kapan dan bagaimana harus bicara, diam, mendengar. Darinya aku banyak belajar bagaimana menjadi anak-anak ketika aku kecil, bagaimana menjadi remaja ketika usiaku beranjak remaja, dan belajar menjadi dewasa ketika saat itu tiba. Dialah yang membuatku selalu belajar untuk hidup, dan tidak berhenti mempelajari kehidupan.

Pria luar biasa itu kini terbaring tak berdaya di rumah sakit karena hepatoma. Kau tahu apa itu hepatoma? Carilah tahu, karena aku enggan bercerita. Yang jelas faktor usia membuat dokter tidak bisa berbuat banyak. Setiap hari ada belasan tablet obat yang harus dikonsumsi olehnya. Bukan untuk menyembuhkan penyakitnya, melainkan hanya sebatas mengurangi rasa sakitnya, dan membantu tubuhnya untuk bisa ‘bertahan’ lebih lama.

Berulang kali kami, anak cucunya, terjebak dalam kemarahan dan kebingungan pada diri kami sendiri setiap kali Bapak memasuki masa kritis seperti ini. Apakah kami kurang baik menyiapkan makanan baginya? Apakah kami lupa memberinya obat? Apakah kami telah terlalu bodoh membiarkannya kelelahan? Ataukah kami berbuat sesuatu yang buruk tanpa kami sadari hingga membuat bapak jatuh sakit lagi? Entahlah.. Tapi aku yakin seyakin-yakinnya bahwa segenap keluarga besar selama ini telah demikian bersatu, bahu membahu, berjuang menjaga pola hidup yang baik bagi bapak, juga ibu yang penderita diabetes.

Berulang kali pula dokter mengingatkan kami untuk tidak menyamakan hepatoma dengan penyakit lain seperti maag, atau flu, diabetes, hipertensi, penyakit jantung atau lainnya, yang jatuhnya atau kambuhnya banyak dipengaruhi faktor eksternal, seperti pola hidup yang salah. Hepatoma tidak begitu. Sebaik dan serapi jali apapun kita mengatur pola hidup penderita hepatoma, ‘serangan2’ atau masa-masa kritis seperti ini pasti tetap akan datang. Pengobatan hanya bisa menunda, atau meminimalisir rasa sakitnya. Seperti saat ini, bapak masih sangat bergantung pada kemoterapi. Dan morfin, pada limit tertentu.

Ah, aku harus menghentikan lamunanku, dan menggantikannya dengan do’a. Semoga Allah memberikan yang terbaik untun Bapak. Karena aku sama sekali tidak tahu mana yang terbaik baginya. Semoga Allah memberi kami semua kekuatan dan ketabahan menghadapi ini. Semoga kami tidak pernah lelah dan menyerah untuk memperjuangkan apa saja yang mungkin terbaik bagi bapak. Semoga..semoga…


0 Responses to “Bapak dan Hepatoma (bagian 2)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: