11
Jan
09

Ketika bunga angkat bicara

“Melati, kamu kenapa?”

….. eh, si Melati diem aja.

“Melati sedih? marah? atau sakit gigi?”

….. eh, si Melati tetep diem aja. Malah balik memandang Mawar dengan tatapan murka (bujubuset ‘murka’)

“Diem kamu!” kata Melati. Singkat, padat, nggak jelas, plus nyebelin.

….. sekarang gantian Mawar yang bengong. Mahkota bunganya ‘sukses’ gugur satu helai. cih. Mawar paham banget itu artinya si Melati lagi marah besar. Yeah, melati sebenernya bukan tipe orang yang bisa marah dengan mudah. Kalaupun kadang dia kedapatan lagi ngomel-ngomel, trust me itu bukan ‘marah’. Mari kita sebut itu sebagai bakat perempuan, dan naluri keibuan. Iya, perempuan mana yang nggak doyan ngomel? Dan ibu mana yang nggak jago ngomel? hehe.. jangan salah, bukan manusia aja yang belajar ilmu hayati. Bangsa bunga seperti kita juga belajar lho, ilmu kemanusiaan.

Nah, sekarang situasinya lain. Melati mendadak ‘ngirit ngomong’. Kalo kepepet aja, baru keluar satu dua kata. Dikit, tapi nylekit. Kayak gitu tadi tuh.. Melati, yang Mawar kenal, semakin dia menyembunyikan kemarahannya, berarti semakin besar skala kemarahannya.

Suatu ketika Melati pernah bilang “Ada yang bilang kalau aku itu orangnya meledak-ledak. mmm…mungkin ada benernya juga ya. Nonton sinetron sedih dikit, nangis. Takut apa dikit, teriak-teriak. Nggak suka apa dikit, ngomel-ngomel. Suka apa dikit, langsung jingkrak-jingkrak”. Okay, pendapat itu bisa diterima. Untuk kondisi tertentu. Maksudnya?

Gini ya, Mawar dan Melati, dibesarkan bersama-sama di taman ini. Keluarga mereka sudah saling berteman baik sejak jaman nenek moyang. Mereka bahkan nggak habis pikir, kenapa manusia menggunakan nama mereka sebagai dua tokoh dongeng yang tidak bisa akur (dasar manusia sok tau). Singkat cerita, Mawar tu udah kenal banget gimana Melati. Mawar juga tau, kalau untuk terkadang, Melati memang suka meledak-ledak. Tapi anehnya, waktu Melati lagi seneeeeng banget, atau sediiiiiih banget, benciiiii banget, maraaaaah banget, kangeeeeen banget.. Pokoknya dalam skala 1-100, ketika mencapai skala 100 untuk perasaan apapun, positif ataupun negatif, Melati justru lebih banyak diam. Seolah bingung harus berekspresi bagaimana.

Iya dong. Kalo jijik dikit aja Melati udah teriak-teriak sampe serbuk sarinya bertebaran… Nah, kalo dia lagi jibang alias jijik banget, apa dia harus teriaaaaaaakkk-teerrriiiaaaaaaaakk gak berhenti-berhenti sampai semua mahkotanya rontok? hee? sebuah hil yang mustahal kan? aja-aja ada..hehe.

Baiklah, mungkin tidak mudah bagi kalian, manusia, untuk memahami ini. Sama seperti ketika sulit bagi kami, bangsa bunga, untuk memahami kenapa kalian, manusia, menganggap aksi memberikan hadiah buket bunga untuk kekasih sebagai hal yang romantis? WTF!! Bagi kami, itu bukan romantis, tapi sadis. Toh bunga kalau sudah dipetik seperti itu tidak akan bisa bertahan lama. Apa itu yang mereka sebut sebagai simbol cinta? Cinta yang hanya sesaat? Mengapa manusia tidak memberikan bunga hidup, dalam pot-nya, untuk dirawat oleh kekasihnya? Biar tahan lama. Biar setiap hari, setiap saat sang kekasih merawat bunga itu dengan penuh cinta. Menjaga agar bunga itu tidak layu atau mati. Agar bunga itu semakin berkembang lebih mekar, lalu muncul kuncup baru, mekar lagi,dst. Abadi, demikian juga cinta mereka.

Tapi cinta tetaplah cinta, tak peduli bagaimana cara mengungkapkannya. Manusia, hewan, tumbuhan, semua mengenal cinta. Asal kau tahu. Kita semua sama-sama ingin dicintai, dan mencintai. Hanya caranya yang berbeda.

*****

Ditulis oleh Anggrek, 2009. Penulis adalah mahasiswa pascasarjana jurusan Ilmu Kemanusiaan di Universitas Fauna Indonesia.

(wakakakakkakkk…..aja aja ada. dasar orrraaaang gillaaa!!)


1 Response to “Ketika bunga angkat bicara”


  1. Januari 14, 2009 pukul 8:48 am

    Swumpah nkie..
    Teko tulisan2mu aku kok paling seneng sing iki.
    Hehehe. Gak oleh protes.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: