03
Des
08

Perempuan Histrionik, si Caper yang nyebelin?

Beberapa tahun yang lalu, sekitar awal2 masuk kuliah, aku dan beberapa temen seangkatan tuh ngerasa benci benci benciiiii banget sama satu orang temen perempuan, yang seangkatan juga. Well, mungkin tidak se’benci’ itu, tapi yang jelas kita risih aja gitu setiap kali melihat, mendengar suaranya, bahkan hanya dengan mendengar namanya disebut udah sukses membuat kita semua gatel-gatel. Alergi, mungkin bisa jadi pilihan kata yang lain (hehe). Jadi kebayang lah, gimana rasanya kalo kita ‘terpaksa’ harus ngobrol, apalagi kerja bareng dia. Tapi tentu saja, kami masih cukup profesional untuk bisa tetep ‘jaga sikap’ dan berinteraski secara ‘normal’ dengannya.

h3Perempuan yang kubicarakan ini, sebut misal “Dewi Persik” namanya (hahaha nggak banget nih pilihan allias-nya). Dia sebenernya punya cukup banyak alasan untuk membuat dirinya menjadi perempuan yang dikagumi sekaligus dibenci, just like Parish Hilton (lagi??). Yeaa, oke, Dewi Persik yang asli mungkin masuk juga dalam kategori itu. Nah, si Dewi Persik gadungan ini, dari penampilan sebenernya termasuk perempuan dengan paras yang -kalau terlalu pahit untuk menyebutnya cantik- sebut saja diatas rata-rata. Yang membuat kami risih setengah mati adalah cara dandannya yang: rambutnya selalu ‘klimis’ tertata rapi bak ibu2 pejabat; make up ‘perfect’ all the time (pun ketika baksos keliling desa yang penuh dengan makhluk bernama sapi); baju yang wajib modis, seksi, eye catching, dan ‘lengkap'(tak pernah meninggalkan aksesori pendukung up to toe, mulai dari pernik rambut sampai high heels yang colorfull). Klop kan sebenernya ketika dipadu dengan paras ayu dan bodi yang tidak mengecewakan? She’s just…too perfect, and sometime (ups, sorry, most the time) too much, mbak. Tapi toh dia pe de abis, dan sebenarnya bisa dibilang dandanan yang cukup normal, untuk ukuran seorang ratu sirkus, tentu saja.

Di sisi lain, dia tergolong perempuan yang smart. Dia aktif di organisasi dan nilainya oke, cukup untuk membuatnya tenar dikalangan sesama mahasiswa maupun dosen. Dia juga pernah jadi asisten dosen yang sama denganku (tapi ditugaskan di jurusan yg berbeda), dan tentu saja dia dipake lebih lama daripada aku (damn, but i’m okay with this), dan mungkin akan dipake terus sebagai asdos kalau bukan gara2 aksi sewot sang istri bapak dosen tadi (pfiuh). Singkatnya, dalam hal pekerjaan, dia sangat mengejar performing well.

Bertahun-tahun aku sempat merasa, fine, mungkin aku (ups, kami) cuma ‘cemburu’ aja sama si ‘Dewi Persik’ gadungan ini. Karena di selalu lebih oke, lebih menonjol, lebih atraktif, lebih berhasil, dan lebih ‘heboh’ (terutama ketika para pria secara tiba-tiba berebut jadi tukang pijat dadakan hanya karena dia ngeluh sakit encok). Sampai kemarin, aku baca sebuah artikel yang membahas tentang “Perempuan Histrionik”.

Gangguan kepribadian berjuluk HISTRIONIK memang lebih sering menjangkiti kaum wanita. Cirinya, senang tampil atraktif dan suka cari perhatian. Tidak mengganggu sih. Hanya saja, berpotensi bikin sebal orang lain.

Merujuk pada penelitian yang dilakukan Beck & Freeman (1990), dalam diri perempuan histrionik ada suatu perasaan tak mampu, tak bisa menangani hidupnya sendiri. Karenanya, ia selalu minta pengukuhan dari orang lain. Sesungguhnya, ia tengah depresi, mengejar perhatian dan persetujuan orang lain. Bila, misalnya, ada seorang pria yang tampak menaruh perhatian padanya, ia kontan menggelepar ge er. Setelah pria itu ia lilit lekat, biasanya tak lama kemudian si pria bakal lari menjauh, karena sang histronik mulai berubah menjadi sangat penuntut. Segala sesuatu dilihat dari sudut pandangnya sendiri. Orang lain harus berada di bawah kemauannya. Perempuan histrionik juga bisa menjadi psikosomatis. Merasa ‘sakit parah’ padahal tidak, semata-mata hanya karena menikmati sensasi ketika mendapat atensi dari lingkungan sekitarnya.

Gangguan histrionik ini sebenarnya dapat disikapi dengan mengevaluasi apa yang terjadi. Dari sisi psikodinamika, psikolog biasanya mengajak melihat kembali hal-hal yang didramatisasi, untuk dievaluasi apa yang sebenarnya terjadi. Lalu si penderita diajak melihat dari sudut pandang berbeda. Intinya, ia dibimbing cara berekspresi yang secara sosial normatif masih bisa diterima, karena sebelumnya cara bereaksinya tidak pas dalam ukuran normal, sehingga jadi terlihat aneh.
Mendadak aku merasa jadi nenek sihir jahat. Ada temennya yang punya masalah psikologi, bukannya dibantu, malah pasang muka jijik dan bersikap antipati. Hu uuuhh, memalukan sekali. ck ck ck…

 

Mantan nenek sihir,

Kiki Basuki


1 Response to “Perempuan Histrionik, si Caper yang nyebelin?”


  1. 1 Indra
    Desember 9, 2008 pukul 2:33 am

    Paris Hilton…Parisnya gak pake “H”..ngisin2 ae arek iki

    |babahno babahno mas….sak karepku talah. cerewet wong siji iki rek..perasaan salah terus deh aku dimatamu (cuiiihhh…lebai..hahaha)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: