Pengait kata (tags) tulisan ‘ Bahasa

21
Apr
09

Besok saja vs Besok saja !

Bahasa tulis itu memang riskan. Karena melalui komunikasi secara tertulis, kita tidak benar-benar bisa mengetahui ekspresi lawan bicara kita ketika menuliskan sesuatu. Oke, kadang gaya bahasa dalam tulisan seseorang sedikit banyak bisa dipengaruhi emosi orang itu saat menulis. Tapi….emm.. kita bisa juga kan salah menafsirkan bahasa tulis orang lain. Apalagi kalau kita belum mengenal betul gaya bahasa yang biasa digunakan orang itu.

Seperti tadi, ketika aku berkomunikasi via SMS dengan ketua PPS desaku. Bapak itu mengirimkan pesan singkat yang sangat singkat, “Besok saja !” wew…aku, dari dulu, selalu berusaha berhati-hati dengan penggunaan tanda seru di sms. Well…biasanya aku cuma make tanda baca itu untuk menunjukkan ekspresi marah, ngambek, screaming, pura-pura marah, atau pura-pura ngambek. hahahha….geje. Tapi aku jarang sekali menggunakan tanda seru dalam komunikasi tulis dengan orang yang tidak kukenal dekat, atau pada komunikasi yang berkonteks formal. Menghindari kesalahan penafsiran. Seperti contoh tadi, menurutku akan lebih baik jika tanda serunya dihilangkan, menjadi “Besok saja.” Lebih enak di hati. ya kan? apalagi kalo di belakangnya ditambah smily seperti ini :) hihhi….nggak penting.

Bercermin pada diriku sendiri, setiap kali aku menerima pesan tertulis yang diakhiri dengan tanda seru, selalu muncul tanda tanya di benakku. Apakah lawan bicaraku ini sedang marah? teriak? atau apa maksudnya?

Herannya, ternyata ada orang-orang yang punya hobi geje membubuhkan tanda seru di akhir kalimat tanpa maksud apa-apa. Iya lho, ada tuh temenku yang gitu. Aku baru sadarnya setelah beberapa kali sms, ternyata semua pesan darinya selalu diakhiri tanda seru. Tanpa maksud apa-apa. Aneh. Bikin deg-degan pembacanya aja. Huh.

08
Jan
09

Rayuan Gombal

Kalau pun aku mati hari ini, atau hidup seribu tahun lagi, kamu tetap satu-satunya wanita terindah yang singgah di hatiku.

Kurang lebih gitu deh kalimat rayuan yang dipake temennya adekku buat nembak cewek yang cukup populer di  SMP-nya. Anak es-em-pe bisa ngomong kayak gitu? Wow, jenius nggak?!

 Selidik punya selidik, ternyata, katanya sih terinspirasi salah satu sinetron yang dia tonton di SCTV. Busseeeeettt… Ternyata semudah ini sebuah tayangan televisi mempengaruhi perkembangan psikologis remaja Indonesia. Mmm…juga gaya bahasa. Hati-hati ya…

*Guwbraaaakk!!! Sinetron lagi yang dibahas kiiiiii….. kapan dewasanya kamu? eh, sinetron kan juga tontonan orang dewasa :D *

05
Jan
09

Sinetron budug

Salah satu adegan sinetron populer di SCTV, yang barusan dengan ‘tidak sengaja’ kutonton. Seorang perempuan, di kantor, komplain ke atasannya yang juga perempuan sebayanya. Begini nih -kurang lebih-  kutipan dialognya:

“Yaaahh mbak, masa kita harus terus-terusan kerja keras sih… kayak kerja rodi jaman romusha aja…..”

See??? Coba perhatikan baik-baik kata yang dicetak tebal. Entah memang si sutradara ingin menciptakan karakter pewagai stupid, atau justru si sutradara (atau script writer-nya) sendiri yang emang rada kurang pinter. Jelas-jelas kosakata ‘kerja rodi’ sama ‘romusha’ itu dipopulerkan pada ‘jaman’ yang berbeda. Beda generasi lah booo..

Kerja rodi, itu istilah untuk kerja paksa jaman penjajahan Belanda. Sementara romusha itu istilah jaman penjajahan Jepang. Gak mungkin banget kan Jepang dan Belanda janjian untuk menjajah Indonesia bareng-bareng. Sebuah ‘hil yang mustahal’….ya nggak sih? Era kejadiannya beda kok…tapi aku nggak hafal tahun pastinya.

*jujur ya…perasaan otakku lebih cepat tanggap bekerja untuk hal-hal spontan bin gak penting kaya’  gini dee.. Coba urusan kuliah sama kerja bisa se-cemerlang ini. uuh…ini pasti kutukan*




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.