Pengait kata (tags) tulisan ‘ Ayah

21
Feb
09

JOBS, KEJAR DAKU KAU KUTANGKAP..

Berapa jumlah pengangguran di negara kita ini? sekian…sekian….sekian….banyak. Tidak heran, jika setiap ‘manusia baru’ maksudnya baru lulus sekolah atau baru lulus kuliah, mostly selalu dihantui pikiran “akan bekerja dimana saya setelah ini?”, atau “adakah perusahaan yang mau menerima saya bekerja?”, atau malah “ada yang melamar saya nggak ya dalam waktu dekat ini?” hehe..

Saya, dan beberapa orang teman perempuan satu kampus dulu, pernah punya rencana konyol tentang masa depan. Yaitu menikah dengan pria sukses *biar kita nggak perlu kerja terlalu keras*, membangun keluarga bahagia, kemudian patungan mendirikan TK atau PAUD *dengan mengumpulkan modal yang diperoleh dari suami masing-masing, tentu*. Hehe…so silly ya? Agak payah imajinasinya, karena waktu itu kalau tidak salah kami sedang meratapi ujian salah satu mata kuliah yang cukup bisa bikin penderita jantung koroner mati berdiri.

Hmm…aku jadi merindukan teman-teman seperjuanganku dulu. Teman-teman konyolku itu, hingga kini memang belum ada yang menikah. Masing-masing masih sibuk dengan dunianya. Tidak ada waktu untuk bermimpi. Beberapa diantaranya saat ini masih disibukkan berbagai ‘kutukan’ menjadi Junior Accountant di KAP ternama *yang anak akuntansi pasti ngerti apa maksudnya xixi*. Yang lain, sudah mantab di jalur BUMN. Satu lagi baru beradaptasi dengan suasana kerja di sebuah perusahaan penerbangan. Yang lain lagi sudah cukup nyaman bekerja di pabrik korek, hehe kidding, perusahaan cerutu ding, tapi masih juga nyari better job, katanya. Beberapa yang tersisa, terlalu *sok* sibuk dengan kehidupannya masing-masing sampai belum juga menyelesaikan skripsi. Seperti aku, yeahh..

Aku, sampai sekarang masih berstatus “menunggu” turunnya SK CPNS sekaligus juga SK Penempatan. Entah akan ‘dilempar’ kemana aku nanti. Seringkali aku sulit tidur hanya karena terbayang-bayang sebaris kalimat pada Surat Pernyataan yang telah kutandatangani sendiri. “Bersedia ditempatkan dimana saja di seluruh wilayah NKRI”. *sigh* Pada titik tertentu bahkan sempat terlintas di benakku “Ya Allah Gusti, kenapa aku dulu mau mau aja disuruh ikutan tes CPNS” Padahal sebelumnya aku sempat menolak dengan berkelakar “Nggak mau ah, takut ketrima”. Jelas hanya bercanda.

Tapi toh sudah terjadi. Doraemon juga sudah terlalu sibuk dengan Nobita Bego, jadi tidak mungkin meminjamkan mesin waktunya padaku. Aku juga tidak ingin menyesali apapun. Keluargaku senang sekali waktu aku ketrima CPNS. Terutama Bapak. Bahkan sebelum aku ujian Bpak sudah bilang mimpi dapat bintang, yang kemudian diberikannya padaku. Katanya, dengan sangat yakin, “awakmu mesti ketrimo, nduk”. Senangnya bukan main ketika tahu mimpinya menjadi kenyataan. Kata Bapak lagi, “yo iki lho obatku”. Kesehatan Bapak memang mulai memburuk sejak ayah mendahuluinya. Bisa dibilang Bapak lah orang yang paling merasa terpukul ketika ayah pergi. *aku nangis nih* Dan hari itu, ketika aku membawa kabar baik itu, Bapak tersenyum. Bukan, beliau tertawa. Aku bisa membaca jelas air muka bahagianya. :)

Nah, no regret. Aku siap ditempatkan dimana saja. *really??hehe*  Nah lo, tiba-tiba aja, siang tadi, ada telepon dari Te Ina. Om Bud, suaminya, didapuk untuk babat alas Harian Rakyat Merdeka edisi Jawa Tengah. Beliau butuh banyak tenaga baru, diantaranya untuk bagian Akuntansi. “Kamu Akuntansi kan mbak? kalau mau, insyaAllah masa depannya lebih menjanjikan di sini. Ikut Om-mu aja ke Solo. gimana?” Crap! Holly holly crap!!!

ps: tau ruang pimred yang di film Otomatis Romantis? itu ruangan harian pak dhe No di kantor Harian Rakyat Merdeka yang di Jakarta. *cool*

16
Nov
08

Ayahku…

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..

Ayahku meninggal kurang lebih 19 hari yang lalu, tepat pada Hari Peringatan Sumpah Pemuda. Usianya 56 tahun, belum lama pensiun. Rambutnya bahkan belum sempat memutih…belum sehelai pun. Terakhir kali aku melihat wajah almarhum Ayah, sebelum dimakamkan…tampak sangat tenang. Seperti sedang tidur. Sisi idiot dalam diriku sempat berpikir untuk membangunkannya, berharap siapa tau Ayah hanya sedang tidur lelap, dan akan kembali terjaga jika kusentuh kakinya. Hmm.. Sampai hari ini, aku masih belum benar2 bisa percaya bahwa Ayah akan meninggalkan kami secepat ini. Kami nggak siap…*sigh* tidak seorang pun akan pernah siap menghadapi hal semacam ini.

Aku bingung *waktu itu* tidak tau harus bersikap seperti apa. Aku hanya perempuan biasa…dan aku ingin menangis sekencang2nya. Tapi melihat mama yang berusaha begitu kerasnya untuk bisa tegar.. I’m spechless.. Tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Tidak pula tangis. Hanya air mata yang keluar dengan sendirinya tanpa bisa kukendalikan. Apalagi menghadapi kenyataan bahwa akulah si sulung, yang mau tidak mau harus turun tangan sendiri, membereskan ini itu. Aku, dalam duka yang tidak bisa kuungkapkan, mendadak harus memikul tanggung jawab untuk menjadi pengambil keputusan ini itu. Untungnya sih, ada banyak teman, tetangga, dan kerabat yang luar biasa..mereka banyak banyak banyak sekali membantu kami, dan kami sangat sangat berterima kasih untuk semuanya. Aku, yang bodoh ini, tidak akan bisa berbuat apa2 dalam situasi seperti ini, tanpa uluran tangan mereka. Terima kasih…

Sampai hari ini, aku masih menunda tangisku… Aku masih perempuan biasa.. Dan aku masih ingin menangis.. someday.

 

Terima kasih,

Kiki Basuki.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.